PSU Pilkada di Provinsi Papua akan segera dilaksanakan pada 6 Agustus 2025, melibatkan 2.023 TPS yang tersebar di 9 kabupaten dan kota.

Kesiapan ini merupakan tindak lanjut dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memerintahkan PSU akibat diskualifikasi pasangan calon pada Pilkada 2024 sebelumnya. Proses persiapan ini melibatkan berbagai pihak untuk memastikan jalannya demokrasi yang transparan, aman, dan partisipatif. Dibawah ini anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran
Kesiapan Teknis dan Personel Ribuan Petugas Disiagakan
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua telah mematangkan persiapan teknis dengan melibatkan ribuan personel. Setidaknya 525 anggota Panitia Pemilihan Distrik (PPD) dilantik di 105 distrik. Mereka menjadi penghubung vital antara pusat dan daerah. Di level kelurahan dan kampung, terdapat 2.779 anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang bertugas mengelola logistik dan daftar pemilih.
Yang paling krusial adalah 14.161 anggota KPPS yang akan bertugas langsung di TPS, memastikan proses pemungutan suara berjalan lancar dan jujur. Dari sisi keamanan, 4.046 anggota Linmas disiapkan menjaga ketertiban jalannya pemilihan. Jumlah ini mencerminkan skala PSU yang tidak kecil, dan kompleksitas medan geografis Papua menambah tantangan tersendiri bagi semua pihak.
Logistik dan Daftar Pemilih Tetap
Satu tantangan besar dalam PSU kali ini adalah pendistribusian logistik ke daerah-daerah terpencil dan sulit dijangkau. KPU memastikan proses pengadaan dan pengiriman dilakukan bertahap dan tepat waktu. Ketua KPU Papua, Diana Dorthea Simbiak, menegaskan bahwa tidak ada TPS yang menggunakan sistem noken semua dilakukan secara langsung dan sesuai ketentuan teknis.
Adapun Daftar Pemilih Tetap (DPT) mengacu pada data Pilkada sebelumnya, tanpa revisi, dengan jumlah mencapai 750.959 orang. Pemilih ini tersebar di sembilan wilayah, termasuk Kota dan Kabupaten Jayapura, Mamberamo Raya, Sarmi, Supiori, Keerom, Biak Numfor, Kepulauan Yapen, dan Waropen.
Baca Juga: Tsunami Gegerkan Pelabuhan Sarmi Akibat Gempa Dahsyat Rusia
Persaingan Kandidat dan Hasil Survei

Dua pasangan calon kembali bertarung di PSU 2025. Paslon Nomor 1, Benhur Tomi Mano–Constant Karma (BTM–CK), maju menggantikan paslon sebelumnya yang didiskualifikasi. Sementara Paslon Nomor 2, Matius Fakhiri–Ariyoko Rumaropen (MARIYO), tetap dengan formasi awal dan didukung belasan partai politik.
Debat publik yang digelar 30 Juli lalu menyoroti visi besar kedua paslon, namun survei terakhir dari Jaringan Survei Independent (JSI) menunjukkan pertarungan sengit: MARIYO unggul tipis dengan 49,5%, sedangkan BTM–CK mendapat 44,6%. Sebanyak 5,9% pemilih masih belum menentukan pilihan, yang berarti potensi kejutan masih terbuka lebar.
Kolaborasi dan Pengamanan
Keberhasilan PSU bukan hanya tanggung jawab KPU. Pemerintah daerah, TNI, Polri, dan Bawaslu turut ambil bagian dalam memastikan kelancaran dan keamanan. Pj. Sekda Papua, Suzana Wanggai, menekankan bahwa dana hibah yang telah dikucurkan harus dimanfaatkan maksimal.
TNI/Polri telah memetakan titik rawan distribusi logistik dan potensi gangguan keamanan. Di sisi lain, Bawaslu Papua memperkuat pengawasan terutama pada konten media sosial yang mulai memanas. Sentra Gakkumdu juga diminta siaga penuh untuk mengantisipasi pelanggaran atau sengketa pasca pemungutan suara.
Partisipasi Publik dan Sosialisasi
Keberhasilan PSU sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. Pj. Gubernur Papua, Ramses Limbong, menyerukan agar masyarakat menyambut PSU dengan semangat damai dan menjaga iklim demokrasi yang sehat. Ia mengingatkan bahwa hak memilih adalah amanah, bukan sekadar formalitas.
Ketua KPU RI, Mochammad Afifuddin, mendorong pelibatan tokoh adat dan tokoh agama dalam proses sosialisasi. Para tokoh ini memiliki pengaruh besar dalam mengajak warga hadir di TPS. Berbagai pelatihan dan pembekalan teknis juga diberikan agar petugas dan masyarakat benar-benar siap menghadapi 6 Agustus 2025.
Kesimpulan
Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Papua 2025 merupakan momen penting dalam menjaga integritas demokrasi di tanah Papua. Dengan ribuan personel, 2.023 TPS, dan hampir 751 ribu pemilih, proses ini menuntut persiapan matang, kerja sama erat antarinstansi, serta partisipasi aktif masyarakat.
Dengan tidak adanya sistem noken, distribusi logistik yang diawasi ketat, dan pengawasan yang diperkuat, PSU ini diharapkan berjalan adil, aman, dan damai. Tanggal 6 Agustus akan menjadi hari penentu masa depan Papua dan suara rakyat akan kembali menjadi penentu.
Simak dan ikuti terus jangan sampai ketinggalan informasi terlengkap hanya di INFO KEJADIAN PAPUA.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari regional.kompas.com
- Gambar Kedua dari www.antaranews.com