Legislator Partai Perindo dari Dapil di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rampeani Rachman, turun langsung ke lapangan.

Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Mimika dalam beberapa pekan terakhir memang bukan hanya sekadar bencana alam biasa. Lebih dari 300 kepala keluarga terdampak langsung. Rumah-rumah tergenang, akses jalan lumpuh, dan fasilitas umum nyaris lumpuh total.
Bukan hanya masalah ketersediaan logistik yang mendesak. Tetapi munculnya potensi wabah penyakit seperti diare, infeksi saluran pernapasan akut, hingga malaria membuat kondisi semakin memprihatinkan Info Kejadian Papua.
Mewakili Suara Rakyat, Bukan Sekadar Jabatan
Apa yang dilakukan Rampeani menjadi contoh konkret bagaimana seorang legislator menjalankan peran bukan hanya dari balik meja. Tapi hadir langsung dalam kehidupan masyarakat yang diwakilinya. Ia memahami betul bahwa tugas sebagai anggota dewan bukan hanya membuat regulasi, melainkan juga memastikan suara rakyat didengar dan kebutuhan mereka terpenuhi.
Di saat yang sama, ia juga menggugah kesadaran pemerintah daerah untuk lebih serius dalam menghadapi malaria. Ia menyoroti lemahnya sistem mitigasi penyakit yang kerap kali hanya digerakkan saat ada korban jiwa, bukan sejak awal munculnya potensi penyebaran. Padahal, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan setempat, kasus malaria di Mimika masih tinggi dan menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak di kabupaten ini, khususnya di musim hujan dan saat bencana terjadi.
Rampeani bahkan mendesak adanya kolaborasi lintas sektor antara dinas kesehatan, BPBD, dan lembaga kemanusiaan agar tindakan preventif bisa dilakukan sebelum malaria kembali merenggut nyawa. Ia juga mengusulkan pengadaan kelambu anti-nyamuk dan penyemprotan insektisida massal di area-area yang terdampak banjir sebagai langkah awal pencegahan.
Bantu Korban Banjir dan Malaria
Tidak bisa dipungkiri bahwa banjir dan malaria merupakan dua hal yang sangat berkaitan. Saat banjir melanda, genangan air menjadi surga bagi nyamuk Anopheles jenis nyamuk penyebar malaria. Di Mimika, kondisi geografis yang didominasi rawa dan curah hujan tinggi membuat potensi wabah malaria sangat besar. Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, situasi ini bisa berujung pada darurat kesehatan.
Rampeani menyadari hal ini dan menjadikannya sebagai isu utama dalam setiap diskusinya dengan pemangku kepentingan di Mimika. Ia mendorong agar dalam setiap penanganan bencana, aspek kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas. Tak hanya soal bantuan pangan, tetapi juga soal penyediaan fasilitas kesehatan, edukasi soal pencegahan penyakit, serta akses pengobatan gratis bagi warga tidak mampu.
“Saya ingin pemerintah tidak hanya reaktif saat bencana terjadi. Kita harus mulai dengan pencegahan. Jangan tunggu malaria menyebar dulu baru turun tangan,” tegasnya.
Baca Juga: BKSAP DPR Kecam Legislator Inggris Soal Isu HAM Papua Kontroversial
Legislatif yang Menyatu Dengan Rakyat

Apa yang ditunjukkan oleh Rampeani Rachman di tengah krisis banjir dan ancaman malaria di Mimika menjadi bukti bahwa seorang legislator bisa dan harus menyatu dengan rakyatnya. Di tengah hiruk pikuk dunia politik nasional. Kisah ini menjadi pengingat bahwa kerja nyata, empati, dan kepedulian adalah inti dari tugas seorang wakil rakyat.
Aksi cepat, kehadiran langsung, dan suara lantang soal isu malaria membuat nama Rampeani bukan hanya dikenal sebagai politisi Partai Perindo, tapi juga sebagai sosok yang tidak takut turun lumpur demi kemanusiaan. Ketika banyak yang hanya bicara, ia memilih untuk bertindak.
Masyarakat Mimika tentu berharap, langkah kecil yang ia mulai ini bisa menjadi pemantik bagi pemimpin lainnya. Sebab di tengah krisis, rakyat butuh lebih dari sekadar janji. Mereka butuh aksi. Dan di Mimika, aksi itu telah dimulai.
Harapan Untuk Perubahan Jangka Panjang
Aksi Rampeani bukan hanya menjadi bentuk empati kemanusiaan. Tapi juga menyiratkan harapan baru bahwa politik bisa menjadi alat perubahan yang benar-benar menyentuh akar rumput. Ia menegaskan bahwa bencana seperti banjir harus dijadikan momentum untuk memperbaiki sistem, bukan hanya rutinitas bantuan tahunan.
Ia bahkan berencana mengusulkan pembentukan satgas malaria khusus di wilayah Papua Tengah yang fokus pada edukasi, pemantauan, dan pemberantasan penyakit di tingkat kampung. Langkah ini diyakini mampu menekan angka kematian akibat malaria yang selama ini tak kunjung turun meskipun program nasional penanggulangan malaria sudah berjalan bertahun-tahun.
Untuk informasi terkini dan lengkap mengenai berbagai kejadian penting di Papua, termasuk insiden keamanan dan bencana alam, kalian bisa kunjungi Info Kejadian Papua sekarang juga.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari news.okezone.com