Insiden memilukan terjadi di rumah sakit ketika dokter dan perawat yang telah berupaya maksimal menyelamatkan pasien anak justru menjadi korban kekerasan.
Tindakan RJP yang dilakukan sesuai prosedur tidak berhasil menyelamatkan nyawa korban, memicu emosi keluarga hingga terjadi dugaan penganiayaan. Kasus ini menuai sorotan luas dan kembali mengangkat isu pentingnya perlindungan hukum.
Simak beragam informasi menarik dan berkenaan berikut ini untuk memperluas wawasan Anda hanya di Info Kejadian Papua.
Nakes Diserang Usai Pasien Tutup Usia
Insiden kekerasan terjadi di sebuah rumah sakit setelah seorang anak pasien meninggal dunia usai menjalani tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP). Orang tua pasien yang tidak terima dengan kondisi tersebut diduga melakukan penganiayaan terhadap dokter dan perawat yang bertugas.
Menurut informasi awal, tim medis telah berupaya maksimal melakukan RJP saat kondisi pasien kritis. Prosedur darurat tersebut dilakukan sesuai standar medis untuk mengembalikan fungsi pernapasan dan denyut jantung. Namun, meski sudah dilakukan penanganan intensif, nyawa pasien tidak berhasil diselamatkan.
Situasi yang semula penuh upaya penyelamatan berubah menjadi tegang ketika keluarga pasien meluapkan emosi. Dugaan penganiayaan terjadi di ruang perawatan tak lama setelah dokter menyampaikan kabar duka. Sejumlah tenaga kesehatan dilaporkan mengalami luka ringan akibat insiden tersebut.
Detik-Detik Insiden di Ruang Perawatan
Berdasarkan keterangan saksi, pasien anak tersebut datang dalam kondisi kritis dan langsung mendapatkan penanganan darurat. Tim medis segera melakukan RJP selama beberapa menit sesuai protokol. Upaya itu dilakukan secara cepat dan terkoordinasi demi menyelamatkan pasien.
Setelah tindakan medis dinyatakan tidak berhasil, dokter menyampaikan hasil penanganan kepada keluarga dengan penjelasan medis. Namun, suasana emosional membuat komunikasi tidak berjalan kondusif. Beberapa anggota keluarga diduga tersulut amarah dan melakukan tindakan agresif.
Petugas keamanan rumah sakit kemudian turun tangan untuk meredam situasi. Pihak manajemen rumah sakit memastikan kondisi tenaga medis sudah mendapat penanganan dan dukungan psikologis. Sementara itu, kejadian tersebut dilaporkan kepada aparat kepolisian untuk ditindaklanjuti secara hukum.
Baca Juga: Wow! Pemprov Papua Selatan Tebar Bantuan Bahan Pokok di Masjid Merauke
Reaksi Pihak Rumah Sakit dan Aparat
Manajemen rumah sakit menyayangkan tindakan kekerasan terhadap tenaga kesehatan yang sedang menjalankan tugas profesional. Mereka menegaskan bahwa seluruh prosedur medis telah dilakukan sesuai standar operasional yang berlaku. Rumah sakit juga menyatakan komitmen untuk melindungi tenaga medis dari tindakan kekerasan.
Pihak kepolisian membenarkan adanya laporan terkait dugaan penganiayaan tersebut. Aparat telah memeriksa sejumlah saksi dan mengumpulkan bukti, termasuk rekaman CCTV di area rumah sakit. Proses hukum akan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Organisasi profesi kesehatan turut mengecam insiden ini. Mereka menilai kekerasan terhadap dokter dan perawat dapat mengganggu pelayanan kesehatan dan menurunkan semangat tenaga medis dalam menjalankan tugas kemanusiaan.
Seruan Perlindungan Tenaga Medis
Kasus ini kembali menyoroti pentingnya perlindungan hukum bagi tenaga kesehatan. Dalam situasi darurat, dokter dan perawat kerap menghadapi tekanan emosional tinggi dari keluarga pasien. Namun, tindakan kekerasan bukanlah solusi atas duka yang dirasakan.
Banyak pihak mendorong adanya penguatan regulasi dan pengamanan di fasilitas kesehatan. Edukasi kepada masyarakat juga dinilai penting agar memahami bahwa tidak semua kondisi medis dapat diselamatkan meski sudah ditangani secara maksimal.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa tenaga kesehatan membutuhkan dukungan dan rasa aman dalam bekerja. Dengan perlindungan yang memadai, diharapkan pelayanan kesehatan dapat berjalan optimal tanpa ancaman kekerasan terhadap para profesional medis.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari kompas.com
- Gambar Kedua dari detik.com